Monday, June 13, 2011

IMAM GHAZALI: LIMA SYARAT SEBELUM MEMILIH TEMAN


Sebelum menjatuhkan pilihan pada seseorang untuk diangkat sebagai pegawai, pembantu, atau kawan, maka seeloknya kita melakukan ujian. Memilih seorang juru masak, kita perlu mengujinya terlebih dahulu sebelum dia benar-benar layak diangkat. Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad mengatakan: “Jika engkau ingin memilih seorang manusia mengikut keperluan dirimu, maka ujilah dengan perkara yang dengannya ia layak untuk dipilih.”

Terlebih dalam memilih teman pergaulan. Kita lihat, apakah ia teman yang pantas diajak bersahabat atau hanya akan menjadi penolong yang kemudian merosakkan diri kita. Sikap tidak kesah tanpa ujian, akan mendatangkan penyesalan. Lihat apakah ia seorang yang terpercaya, jujur, dan sebagainya.

Imam Ghazali membuat lima syarat sebagai syarat layak tidaknya ia diangkat sebagai teman:

PertamaUji akalnya. Mengapa? Akal adalah modal utama dalam meraih keberuntungan. Sebaliknya, kebodohan adalah sebuah kerugian. Seorang yang berusaha mengemudikan kendaraan tanpa memiliki kecakapan, ia akan terperosok, melukai orang lain.

Seorang pembantu yang tidak pintar, akan memberikan pisau pada seorang Balita yang merengek-rengek meminta pisau. Tanpa ada akal yang membimbingnya, si pembantu tersebut betul-betul memberikannya. Akibatnya, berdarah-darah.

Oleh karena itu, Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan:
“Jangan kamu berteman dengan orang yang bodoh. Berhati-hatilah Banyak orang yang pandai, jatuh kerana orang yang bodoh.”

Kedua, Uji Budi pekertinya. Betapa banyak, mereka yang cerdas secara intelektual tapi tidak berakhlak. Pandai namun melakukan rasuah, menipu, rasak moralitinya.

Mungkin ia cerdas, mempunyai gelar akademik yang berjela di belakang namanya, tapi ia tidak boleh mengelola emosi dan syahwatnya.

Nilai manusia terletak pada akhlak bukan pada ketampanan dan wajah yang rupawan. Allah memuji Nabi SAW. bukan dari segi ketampanannya meski beliau manusia paling tampan; bukan pada bau harumnya meski beliau membawa bau harum di mana beliau berada. Allah berfirman:

“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Qs. Al-Qalam: 04)

Seperti itulah nilai keagungan Nabi, yaitu akhlak. Sebotol minyak wangi harganya boleh melonjak tinggi sebab ia membawa wewangian. Semakin harum, semakin mahal nilainya. Akhlak merupakan nilai standard diri seorang manusia.

Ketiga, Perbuatannya. Artinya, jangan mencari kawan, pembantu, atau pegawai yang fasik, melanggar ajaran Allah. Carilah seorang yang taat pada Allah dan hindari orang-orang yang gemar bermaksiat. Allah berfirman:

“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.” (QS. An-Najm: 29)

“Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa”. (QS. Thaha: 16)

Ketika kita berteman dengan orang fasik, lunturlah nilai sebuah kesolehan. Ketika kita berani menjalin hubungan persahabatan dengan penagih dadah, kitalah akan menjadi korban berikutnya. Ketika orang yang sihat berkumpul dengan orang yang sakit, orang yang sihatlah yang akan terkena jangkitannya.

Keempat, Akidahnya. Jangan berkumpul dengan ahli bid`ah. Di saat ramainya lalu-lintas aliran sesat, tentu mengangkat seseorang sebagai pemimpin, teman, atau pembantu, mesti melihat dan meneliti akidah yang diyakininya. Jika tidak, tidak menutup kemungkinan, ia akan menyebarkan virus kesesatannya pada keluarga dan masyarakat sekitar. Menimbulkan kegaduhan dan ketidakselesaan
.
Kelima, Cintanya pada dunia. Jangan cari teman yang cinta dunia, tamak, dan rakus terhadap dunia. Dua ciri khas orang tamak: ia enggan membantu orang lain yang berada dalam kesusahan dan kedua, ia selalu berusaha menambah kenikmatan duniawinya meski untuk itu harus mengambil hak dan martabat orang lain.
Orang tamak tak mau merugi, namun senantiasa mengail keperluan di balik keluh-kesahnya kala ia didera derita. Ia memutus harapan. Demi kepentingannya, ia akan mengorbankan pihak lain dengan berbagai cara. Licik adalah nafas hidupnya.

Habib Abdurrahman As-Saggaf mengajarkan sebuah prinsip: “Jika kamu menilai manusia seperti serigala, maka jangan kamu menjadi domba untuk dimakan olehnya. Jika kamu melihat orang yang lugu, maka jangan kamu memakannya.”

Jangan jadi penjahat dan jangan mau dijahati, jadilah orang yang pandai memberikan manfaat, tapi jangan dimanfaatkan oleh orang untuk kepentingan yang tidak baik. Wallahualam…

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...