Sunday, February 27, 2011

Lima Perkara Perosak Hati

Hati adalah pengendali. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika ia rosak, rosak pula perbuatannya. Maka menjaga hati dari kerosakan adalah perlu dan wajib.

Tentang perosak hati, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada lima perkara, 'bergaul dengan banyak kalangan teman (baik dan buruk), angan-angan kosong, bergantung kepada selain Allah, kekenyangan dan banyak tidur.'

1. Bergaul dengan banyak kalangan

Pergaulan adalah perlu, tapi tidak asal bergaul dan banyak teman. Pergaulan yang salah akan menimbulkan masalah. Teman-teman yang buruk lambat laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa nurani, akan membuat yang bersangkutan larut dalam memenuhi berbagai keinginan mereka yang negatif.

Dalam paparan kehidupan, kita sering menyaksikan orang yang hancur hidup dan kehidupannya gara-gara pergaulan. Biasanya output semacam ini, kerana motivasi bergaulnya untuk dunia. Dan memang, kehancuran manusia lebih banyak disebabkan oleh sesama manusia. Oleh sebab itu, kelak di akhirat, banyak yang menyesal berat kerana salah pergaulan.

Allah berfirman:

"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya seraya berkata, 'Aduhai (dulu) kiranya aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku." (Al-Furqan: 27-29).

"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa." (Az-Zukhruf: 67).

"Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain), dan tempat kembalimu adalah Neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolong." (Al-Ankabut: 25).

Inilah pergaulan yang didasari oleh kesamaan tujuan duniawi. Mereka saling mencintai dan saling membantu jika ada hasil duniawi yang diingini. Jika telah lenyap kepentingan tersebut, maka pertemanan itu akan melahirkan duka dan penyesalan, cinta berubah menjadi saling membenci dan melaknat. Kerana itu, dalam bergaul, berteman dan berkumpul hendaknya ukuran yang dipakai adalah kebaikan. Lebih tinggi lagi tingkatannya jika motivasi pertemanan itu untuk mendapatkan kecintaan dan redha Allah.

2. Larut dalam angan-angan kosong

Angan-angan kosong adalah lautan tak bertepi. Ia adalah lautan tempat berlayarnya orang-orang tiada tujuan hidup. Bahkan dikatakan, angan-angan adalah modal orang-orang tak bertujuan. Ombak angan-angan terus mengombang-ambingkannya, khayalan-khayalan dusta senantiasa mempermainkannya. Laksana anjing yang sedang mempermainkan bangkai. Angan-angan kosong adalah kebiasaan orang yang berjiwa kerdil dan rendah.

Masing-masing sesuai dengan yang diangankannya. Ada yang mengangankan menjadi raja atau ratu, ada yang ingin keliling dunia, ada yang ingin mendapatkan harta kekayaan melimpah, atau isteri yang cantik jelita. Tapi itu hanya angan-angan belaka. Adapun orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia, maka cita-citanya adalah seputar ilmu, iman dan amal shalih yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan ini adalah cita-cita terpuji.

Adapun angan-angan kosong ia adalah tipu daya belaka. Nabi Sallallahu alaihi wasallam memuji orang yang bercita-cita terhadap kebaikan.

3. Bergantung kepada selain Allah

Ini adalah faktor terbesar perosak hati. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dari bertawakkal dan bergantung kepada selain Allah. Jika seseorang bertawakkal kepada selain Allah maka Allah akan menyerahkan urusan orang tersebut kepada sesuatu yang ia bergantung kepadanya. Allah akan menghinakannya dan menjadikan perbuatannya sia-sia. Ia tidak akan mendapatkan sesuatu pun dari Allah, juga tidak dari makhluk yang ia bergantung kepadanya. Allah berfirman, ertinya:

"Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka." (Maryam: 81-82)

"Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka, padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka." (Yasin: 74-75)

Maka orang yang paling hina adalah yang bergantung kepada selain Allah. Ia seperti orang yang berteduh dari panas dan hujan di bawah rumah laba-laba. Dan rumah laba-laba adalah rumah yang paling lemah dan rapuh. Lebih dari itu, secara umum, asal dan pangkal syirik adalah dibangun di atas ketergantungan kepada selain Allah. Orang yang melakukannya adalah orang hina dan nista. Allah berfirman, ertinya:

"Janganlah kamu adakan tuhan lain selain Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)." (Al-Isra': 22)

Terkadang keadaan sebahagian manusia tertindas tapi terpuji, seperti mereka yang dipaksa dengan kebatilan. Sebahagian lagi terkadang tercela tapi menang, seperti mereka yang berkuasa secara batil. Sebahagian lagi terpuji dan menang, seperti mereka yang berkuasa dan berada dalam kebenaran. Adapun orang yang bergantung kepada selain Allah (musyrik) maka dia mendapatkan keadaan yang paling buruk dari empat keadaan manusia, yakni tidak terpuji dan tidak ada yang menolong.

4. Makanan

Makanan perosak ada dua macam. Pertama , merosak kerana zat/materinya, dan ia terbahagi menjadi dua macam. Yang diharamkan kerana hak Allah, seperti bangkai, darah, anjing, binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam. Kedua, yang diharamkan kerana hak hamba, seperti barang curian, rampasan dan sesuatu yang diambil tanpa kerelaan pemiliknya, sama ada kerana paksaan, malu atau takut terhina.

Kedua , merosak kerana melampaui ukuran dan takarannya. Seperti berlebihan dalam hal yang halal, kekenyangan melampaui batas. Sebab yang demikian itu membuatnya malas mengerjakan ketaatan, sibuk terus-menerus dengan urusan perut untuk memenuhi hawa nafsunya. Jika telah kekenyangan, maka ia merasa berat dan kerananya ia mudah mengikuti komando syaitan. Syaitan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa mempersempit aliran darah dan menyumbat jalannya syaitan. Sedangkan kekenyangan memperluas aliran darah dan membuat syaitan betah tinggal berlama-lama.

Barangsiapa banyak makan dan minum, niscaya akan banyak tidur dan banyak merugi. Dalam sebuah hadits masyhur disebutkan:

"Tidaklah seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk dari memenuhi perutnya (dengan makanan dan minuman). Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap (makanan) yang bisa menegakkan tulang rusuknya. Jika harus dilakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya." (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani).

5. Banyak tidur

Banyak tidur mematikan hati, memenatkan badan, menghabiskan waktu dan membuat lupa serta malas. Di antara tidur itu ada yang sangat dibenci, ada yang berbahaya dan sama sekali tidak bermanfaat. Sedangkan tidur yang paling bermanfaat adalah tidur saat sangat dibutuhkan. Segera tidur pada malam hari lebih baik dari tidur ketika sudah larut malam. Tidur pada tengah hari (tidur siang) lebih baik daripada tidur di pagi atau petang hari. Bahkan tidur pada petang dan pagi hari lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.

Di antara tidur yang dibenci adalah tidur antara solat Subuh dengan terbitnya matahari. Sebab ia adalah waktu yang sangat strategik. Kerana itu, meskipun para ahli ibadah telah melewatkan sepanjang malamnya untuk ibadah, mereka tidak mahu tidur pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Sebab waktu itu adalah awal dan pintu siang, saat diturunkan dan dibagi-bagikannya rezeki, saat diberikannya barakah. Maka masa itu adalah masa yang strategik dan sangat menentukan masa-masa setelahnya. Oleh itu, tidur pada waktu itu hendaknya kerana benar-benar sangat terpaksa. Secara umum, saat tidur yang paling tepat dan bermanfaat adalah pada pertengahan pertama dari malam, serta pada seperenam bagian akhir malam, atau sekitar lapan jam. Dan itulah tidur yang baik menurut pada doktor. Jika lebih atau kurang daripadanya maka akan berpengaruh pada kebiasaan baiknya.

Termasuk tidur yang tidak bermanfaat adalah tidur pada awal malam hari, setelah tenggelamnya matahari. Dan ia termasuk tidur yang dibenci Rasul Sallallahu 'alaihi wa sallam .

Apakah tujuan kita hidup?

Setiap benda yang dijadikan oleh pencipta atau dicipta oleh manusia dengan izin Nya pasti mempunyai tujuan. Pokok dicipta kerana mempunyai tujuan untuk membekalkan oksigen dan makanan, gunung ganang bertujuan sebagai pasak bagi bumi ini. Begitu juga dengan kereta untuk kemudahan kita bergerak.

Namun pernahkah kita terfikir, apakah tujuan kita dicipta?
Allah swt berfirman:

Maksudnya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku".( al-Dhariyat: 56)

Jelas disini tujuan hidup kita hanyalah mengabdikan diri kepada Allah. fungsi seorang hamba ialah hanya menurut perintah Nya. Disini kita perlu faham bahawa mengabdikan diri bukan bermaksud kita perlu beribadat sepanjang masa.

Dari Abu Hurairah r.a katanya:”Nabi saw. bersabda yang maksudnya:”Sesungguhnya agama (Islam) itu ringan. Sesiapa yang memperberat-beratkannya maka dia akan dikalahkan oleh agama. Oleh itu kerjakanlah (agama itu) mengikut sepatutnya atau mendekatinya dengan yang sepatutnya dan gembiralah (kerana akan beroleh pahala) serta beribadatlah (mohonlah pertolongan Allah) pada waktu pagi, petang dan sebahagian malam.”
(Bukhari)

Huraian JAKIM (http://ii.islam.gov.my/hadith/hadith1.asp?keyID=822):
Tujuan ibadah adalah untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. Konsep ibadah terbahagi kepada 2 kategori iaitu ibadah khusus (seperti sembahyang, puasa, haji) dan ibadah umum iaitu setiap gerak geri, tindakan dan pekerjaan yang diniatkan kerana Allah). Syarat diterima sesuatu ibadah itu bergantung pada tiga perkara iaitu; Islam, ikhlas dan ittiba’ (dilakukan sesuai dengan perintah Allah SWT dan mencontohi apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw). Dalam erti kata bahawa sesuatu ibadah itu hendaklah dikerjakan sebaik mungkin (menepati kehendak syarak) tanpa melebih-lebihkannya. Malah apa yang dimaksudkan dalam hadith di atas sebagai ‘dikalahkan oleh agama’ ialah keadaan seseorang yang menjadi lemah lantaran terlalu kuat mengerjakan ibadah hingga lupa menguruskan keperluan dirinya seperti mencarai nafkah menyara hidup ahli keluarga dan sebagainya. Perkara ini ternyata amat bertentangan dengan kehendak Islam kerana Islam juga menyuruh manusia agar berusaha gigih untuk mencari penghidupan yang baik di dunia dan bukan menumpukan segala usaha untuk bekalan akhirat semata hingga melupakan dunia sewenang-wenangnya sedangkan dunia adalah jambatan ke akhirat. Oleh itu manusia mestilah bijak menyeimbangkan antara keperluan dunia dan akhirat agar tidak termasuk di kalangan orang-orang yang rugi.

Dalam hadith lain yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim ada diceritakan:

3 orng telah datang mengunjungi rumah Rasulullah SAW bertanya mengenai ibadah Rasulullah. Mereka berkata, "apakah yang boleh diukur dengan Rasulullah? Baginda telah diampuni dahulu dan kemudian. Maka tidak mengapalah baginda mengerjakan ibadah dengan sedikit". Salah seorang berkata pula," Sesungguhnya aku sentiasa mahu mengerjakan solat pada waktu malam". Seorang lagi berkata," Aku hendak menjauhkan diri daripada perempuan(tidak mahu berkahwin selama-lamanya).

Rasulullah SAW datang menemui mereka lalu bersabda:

"Kamu telah berkata sedemikian rupa. Bukankah aku ini orng yang paling takut dari kalangan kamu dan paling bertaqwa kepada Allah. Tetapi aku berpuasa, aku juga berbuka. Aku solat,aku juga tidur dan aku juga berkahwin. Maka sesiapa yg tidak suka mengikut jejak langkahku, bukan dia daripadaku".


Pernahkah kita ke suatu tempat, tetapi kita tidak tahu apakah tujuan kita ke situ. Apakah yang anda rasa ketika itu. Semestinya rasa kekosongan dan buntu. Ketika itu pastinya kita akan membuat keputusan untuk kembali ke rumah. Ini sama dengan hidup kita. Jika kita telah tersesat atau hidup tanpa tujuan, kita perlu kembali ke pangkal jalan dan tetapkan halatuju kita.

Tujuan kita perlu selari dengan syariat Islam supaya kita selamat dunia dan akhirat. Tetapkan tujuan anda sekarang jika masih belum ada. Mantapkan tujuan anda jika telah ada.

Masjid Al Aqsa

Ramai di antara kita masih keliru dengan Masjid Al Aqsa. untuk melihat masjid tersebut sila ke link berikut.

http://www.4shared.com/document/ycWmKUFH/MasjidALAQSAyangsebenarnya.html

Laluan ke Shah Alam melalui SKVE

Tadi first time aku lalu SKVE untuk ke Shah Alam. Biasa aku lalu Puchong atau Federal atau Laluan Putrajaya KLIA. Kalau dari Seri Kembangan, pengguna boleh masuk ke lebuhraya ini melalui Plaza Tol Ayer Hitam (bukan kat johor ya).

Laluan nie kena lalu hampir 4 tol x silap aku sebelum sampai shah alam. bagi aku lebih baik lalu Puchong sebab lagi dekat. tapi jika nak elak jem laluan nie lah alternatifnya. satu lagi alan dia street jer sampai plaza tol untuk ke KLIA, lepas tu ambik kiri.

Bagi anda yang ingin mencarinya didalam google map atau GPS, mungkin x kan jumpa lebuh raya SKVE nie sebab masih baru.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...