Thursday, December 2, 2010

anak burung

Ada dua ekor anak burung yang sudah meningkat dewasa. Anak burung yang pertama mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar terbang. Dia belajar meloncat dari sarang untuk mencapai dahan yang disebelah sarang.

Sedangkan anak burung yang kedua tidak mempunyai kemahuan untuk belajar terbang. Dia merasa malas dan tidak mempunyai keberanian untuk belajar terbang. Baginya hidup disarang dan menerima makanan dari si ibu saja sudah cukup.

Suatu hari anak burung yang pertama meloncat dan berusaha mengepakkan sayapnya, tapi apa daya, dia terjatuh dari atas pohon bergulingan ke tanah. Dia merintis kesakitan, lalu dia berusaha bangkit dan mencuba lagi. Perkara ini dilakukan berulang ulang. Sedangkan anak burung yang kedua memandang sambil bergumam, "buat apa susah-susah belajar terbang, daripada aku jatuh bangun dan badanku sakit, lebih baik aku tidur di sarang aja dan makanan akan datang dari ibuku."

Hingga pada suatu hari anak burung pertama telah berhasil terbang setelah belajar dan berjuang tidak kenal lelah. Dia telah boleh bercengkerama dengan burung lain dari dahan yang satu ke dahan yang lain, dari pohon satu ke pohon yang lain, dan dia sudah boleh mencari makan sendiri. Dengan riang gembira dia menjalani hidup dengan bebasnya.

Sedangkan anak burung kedua dia hanya boleh melihat teman temannya yang telah bebas. Dalam hati dia menyesal, mengapa dia tidak mahu belajar terbang sejak dulu. Dia meratapi nasibnya yang masih bergantung ke ibunya untuk makan.

Renungan:

memang hidup adalah pilihan. Sering kali pilihan untuk berjaya dimulai dengan jatuh bangun, pahit getir, atau bahkan meghadapi risiko yang bila kita membayangkan membuat hati kita ngeri untuk melangkah lebih jauh.

Tapi ingat, kalau kita tidak menghadapi risiko, kita tidak akan maju, kita akan bernasib sama dengan anak burung kedua, yang masih bergantung kepada orang lain. Kita akan merasa
ketinggalan dengan orang yang telah lebih dulu berjaya. Tidak ada salahnya kita belajar mengepakkan sayap. Hadapi dunia, terbang sejauh-jauhnya. Songsong cita-cita kita walaupun kita harus berpisah dengan orang yang kita sayangi. Walaupun kita akan merana, kesakitan, sendiri, anggap saja ini ujian untuk mencapai hidup yang lebih baik.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...